This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 25 Maret 2018

Kesan dan Pesan LKKM-TD 2018 H-3 Universitas Lambung Mangkurat


LKMM-TD H-3
24 Maret 2018
           Jika kemaren LKKM hari kedua berbeda, hari yang ketiga ini lebih berbeda lagi. Tidak ada materi-materian, tidak ada duduk-dudukan yang bisa bikin bokong menjerit.  Dengan mengangkat tema “Mahasiswa juga masyarakat” peserta LKMM diajak terjun langsung ke masyarakat di desa Cempaka, Banjarbaru. Pakaian yang digunakan pun terbilang simple, yaitu mengenakan baju engineering ID dan celana training, dan bagi seorang muslimah yang berhijab memakai jilbab hitam.
Untuk mencapai lokasi yang ditentukan, peserta menggunakan sepeda motor sebuah berdua. Kalau bertiga, cabe-cabean, jadi tidak boleh. Pemandangan jalanan yang tidak terlalu ramai kendtiba-raan tiba-tiba membangkitkan hasrat dalam diriku. Hasrat akan kecintaan mendatangi tempat-tempat baru yang belum pernah aku datangi. Aku cukup menikmati perjalanan ini. Karena tidak seperti perjalanan biasanya yang hanya ada satu atau dua orang, kami disini berangkat rame-rame, atau istilah yang tidak aku mengertinya adalah kompoi. Silahkan translate sendiri, pemirsah.
             Sebelumnya, kami sudah diwajibkan membawa sapu lidi, cangkul, clurit, sekop, dan alat-alat kebersihan lain untuk digunakan sebagai senjata pengabdian kami. Setiap kelompok LKMM-TD juga telah ditentukan area mana yang harus dibersihkan. Dan kelompokku tersayang, kebagian daerah perumahan yang cukup padat. Jarak antar rumah sangatlah dekat. Tentunya merupakan alokasi perumahan yang kurang baik menurut ayah saya si pengamat lingkungan terkenal di jagat raya, namun sayangnya tidak diakui beliau sebagai anak.
Hal yang kami berikan pada warga bukanlah sesuatu yang berarti. Hanya sekedar membersihkan sampah dan rerumputan yang tentunya bisa mereka lakukan sendiri. Jadi bisa dibilang, kami yang harus berterimakasih kepada mereka, sudah diizinkan untuk memasuki “rumah” mereka dan secara tidak langsung mengajarkan kepada kami arti sebuah keikhlasan tanpa memandang apa yang diberikan dan apa yang diterima. Kadang, senyum dari warga dan antusiasme mereka dalam menyambut kami, menyentuh hati kecilku. Inilah apa yang dinamakan “warga”, sebuah komunitas kecil yang mau menerima kedatangan kami, si “bukan siapa-siapa” ini. Teruntuk mereka, terimakasih.
         Kegiatan berakhir sekitar pukul 11.30. Kami diarahkan kembali ke fakultas teknik. Sambil menunggu semua peserta terkumpul seluruhnya, kami dipersilahkan istirahat di dalam barisan. Mendengar yel-yel dari dua kelompok sambil berbagi makanan. Padahal baru beberapa kali bertemu teman sekelompok namun sudah terasa sesolid ini. Ka BE’EM dan panitia, salah satu tujuan program yang kalian rencanakan dengan hati yang matang telah terealisasikan. Percaya tak percaya, ada beberapa orang yang sudah merasakan sensasi berkumpul kelompok seperti berkumpul dengan keluarga.
          Pelajaran yang dapat dipetik kali ini, tidak ada pelajaran yang dapat dipetik! Karena yang dipetik itu buah dan sayur. Pelajarannya, kami diajak untuk merasakan atmosfir di masyarakat, karena kelak “tempat” itulah yang akan kami tuju. Bukan sekedar prodi tambang – pada “tambangnya” atau prodi kimia pada “lab” nya, melainkan masyarakat itu sendiri. Suatu lingkungan yang keras, dan apabila tidak mampu melewati tidak ada kata kasihan untukmu. Etika seperti apa yang membuat seseorang bertahan? Aku masih penasaran dengan jawaban atas pertanyaan itu. Jawabannya ada di depan mata.

Kau dapat melupakan orang yang tertawa bersamamu, tapi jangan pernah melupakan orang yang menangis bersamamu.
               

Jumat, 23 Maret 2018

Kesan dan Pesan LKMM-TD 2018 H-2 Universitas Lambung Mangkurat


Hari kedua LKMM-TD
20 Maret 2018
                Disini kami diwajibkan memakai baju sasirangan. Ya,  kain sasirangan yang merupakan kain khas Kalimantan Selatan. Selain itu, pelaksanaannya juga tidak berada di Fakultas Teknik, melainkan di gedung Bina Satria. Nuansa baru berbalut dengan cerita baru. Peserta diwajibkan datang 30 menit lebih awal  dari hari hari pertama. Untuk acaranya sendiri  terdiri dari talkshow dan forum grup discussion.
                Aku sangat senang ketika mengetahui salah satu narasumber dari talkshow tersebut adalah Kak Agus Sasirangan, yang merupakan idola aku semenjak beliau tampil di acara master chef. Dan yang lebih mengesankannya lagi dengan cerita perjalanan hidup kak Agus yang sangat menginspirasi. Kerendahan hati memancar dari cara beliau bercerita. Bertambahlah kekagumanku kepada beliau.
                Talkshow berikutnya bertema tentang “Tebar Pesona”. Bukan tebar pesona dalam arti yang denotasi tapi itu merupakan kepanjangan dari tekan bersama permasalahan sosial dan narkoba. Ya, tahulah yang namanya anak muda, kalau disuguhkan dengan materi yang sejenis itu hanya beberapa persen saja yang mendengarkan dengan seksama, sisanya  kaum-kaum jahiliah laknat seperti saya melakukan aktivitas yang lain. Ngupil lah, tidur lah, mengerjai teman lah. (sebelumnya maaf kepada BEM dan seluruh panitia karena tulisan ini terlalu jujur).
                Acara kedua adalah FGD.  Setiap kelompok diwajibkan mengirim tujuh orang delegasi untuk mengikuti acara tersebut. Tema yang diangkat pun bermacam-macam, dan menurut saya tema yang paling menarik adalah mengenai “Lulus tepat waktu atau lulus diwaktu yang tepat”.  Dari awal saya berharap tema tersebut dapat menariksebuah perdebatan yang sengit. Namun, diskusi tetap berjalan sewajarnya dengan suasana yang anget-anget panas.
                Setelah semua rangkaian acara selesai, kami dipersilahkan pulang. Banyak pelajaran yang aku dapat kali ini. Terutama kepedulian pada teman sekelompok maupun lingkungan sekitar. Semoga dengan adanya LKMM-TD ini, aku bisa menjadi pribadi yang lebih percaya diri, berani mengambil resiko dan tentunya memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Saya memang seseorang yang melangkah dengan lambat, tetapi saya tidak akan pernah berjalan mundur ke belakang.

Kata mutiata
Perjalanan sejauh rubuan mil pasti dimulai dengan satu lanngkah.

Bonus
Jika kau dilempar batu oleh seseorang, janganlah membalasnya melempar balik dengan batu, tapi balaslah dengan melempar bunga kepadanya. Tapi usahakan potnya ikut juga :)



Kamis, 15 Maret 2018

Kesan dan Pesan LKMM-TD Universitas Lambung Mangkurat


Apa itu LKMM-TD?
LKMM-TD adalah singkatan dari latihan kepemimpinan manajemen mahasiswa tingkat dasar. 

09 Maret 2018 pukul 20.15 PM
“Pergilah nak, Ibu merestui, dan do’a Ibu menyertai.”
Sejenak aku seperti melihat seulas senyuman dari suara lembut yang keluar dari speaker handphone. Senyuman itupun menular padaku. Dengan hati yang mantap dan tak ada keraguan, aku Rahimanisa siap untuk mengikuti LKKM-TD.  Terimakasih Ibu.

Lamunanku buyar, ketika mendengar teriakan dari teman-teman serumahku. Mereka tengah asik mempersiapkan segala keperluan buat besok. Tak mau ketinggalan, aku pun ikut nyampring dengan mereka. Menyetrika pakaian, memasukkan segala keperluan kedalam goodie bag, dan yang paling aku ingat, menulis 750 kata di jurnal dalam semalam. Menyenangkan. Haha, tapi bohong.

H-1 sebelum LKMM-TD. Aku sangat menikmati momen ini. Bercanda dengan yang lain, berbagi cerita, mengetahui kebiasaan masing-masing, bahkan menertawakan hal yang tak penting. Kalau ada yang bilang pertemanan hanyalah gudang sandiwara, mungkin orang yang mengatakan hal tersebut terlalu banyak makan micin. Ya, micin. Orang itu hanya belum menemukan orang-orang seperti kalian, teman-temanku. Dan detik ini, aku do’akan ia menemukannya. Dan untukmu, “teman” yang aku beri tanda kutip, terimakasih. Entah angin apa yang membawanya, tiba-tiba muncul di depan rumah. 

00.00 - BolPoin snowman V-5 menari gemulai di atas kertas putih tanpa garis. Terlihat beberapa orang gadis tengah bergelut dengan bahan tulisan dengan kening yang mengerut. Beberapa keluhan halus kadang keluar dari mulut mereka. Mata yang sudah mulai memerah karena mengantuk saling beradu. “Mau menyerah?” tidak. Karena kita anak teknik.

10 Maret 2018 pukul 06.30 AM
Plaza teknik menguning. Helm safety yang sudah menjadi ciri khas anak-anak engineer tampak mengkilat disapa matahari pagi. Raut muka yang harap-harap cemas masih melekat. Bisa dikatakan berasa PKKMB untuk yang kedua kalinya. Namun kali ini lebih santai. Tidak banyak suara-suara “indah” yang menginging di telinga. Tak banyak yang kuingat disini, karena termasuk seseorang yang memiliki ingatan terbatas. Saya kembalikan pada sang narator.

09.00 AM - Peserta LKMM-TD diarahkan ke aula teknik yang berada di lantai tiga. Dengan terkantuk-kantuk Nisa mengikuti arahan tersebut. Langkahnya gontai saat menaiki tangga. Wajahnya yang seperti orang tidak mandi tiga hari  tersenyum hangat pada rekan sekelompoknya. TAMAT. 

        10.00 AM – Yaelah si narator kaga niat amat bantu nyeritain. Kembali bersama saya Rahimanisa, pada jam segini adalah momen yang ngantuk sengantuk-ngantuknya. Mungkin beberapa orang setuju dengan pendapat saya yang satu ini. Padahal jika dilihat dari materi yang disuguhkan cukup menarik. Untungnya, untuk mengantisipasi jatuhnya korban jiwa, panita menyelingi dengan penyajian yel-yel dari berbagai kelompok. Sungguh mulia sekali hati mereka.

           Satu lagi. Hal yang berkesan adalah ketika detik-detik menjelang kematian pulang. Disana peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Suasana mulai memanas. Saya sangat mengapresiasi teman-teman yang berani mengeluarkan kritik dan saran. Terlebih pada teman yang mampu membalut kritik yang membangun dengan mengedepankan rasionalitas dan mengesampingkan emosional pribadi. Orang-orang seperti inilah yang teknik cari. Orang-orang yang seperti inilah yang Universitas Lambung Mangkurat inginkan. Orang-orang yang seperti inilah yang kau dan aku perlukan untuk bersama-sama mengubah dunia. 

                Bonus kata, “kami diberi makan.”

Epilog
                Terimakasih kepada semua pihak yang membantu sehingga tulisan ini dapat dipublikasikan tanpa terkendala kuota. Terimakasih juga saya ucapkan kepada seluruh panitia yang telah mencurahkan fikiran dan tenaganya sehingga LKMM-TD tahun 2018 ini dapat terlaksana. Terimakasih juga kepada teman-teman yang sudah mau membaca mendo’akan saya mejadi cakep. 

Rangkaian acara LKMM-TD pertama lancar, karena do’a salah satu ibu seseorang terkabul.

Jangan katakan pada Allah, “Aku punya masalah yang besar”, tetapi katakanlah pada masalah, “Aku punya Allah Yang Maha Besar”. – Ali bin Abi Thalib

Sabtu, 25 Juli 2015

Islam di Rusia (Bagian 2)

Sembunyi-sembunyi
Salah satu saksi bisu bagaimana syi'ar Islam di Rusia berkembang adalah Masjid Sabornaya atau Masjid Agung Moskow, yang berada di kawasan Prospect Mira. Maka jangan heran, masyarakat setempat menyebutnya Masjid Prospect Mira. Tempat beribadah ini juga berada persis di samping salah satu stadion terbesar Rusia, Olympic Moskow atau Olimysky. 
MASJID SABORNAYA, MASJID AGUNG MOSKOW. Kontribusi untuk para pejuang di medan perang
MASJID SABORNAYA, MASJID AGUNG MOSKOW. Kontribusi untuk para pejuang di medan perang

Meski ada empat masjid di Moskow, hanya Sabornaya yang diakui pemerintah. Adzan bebas berkumandang disini, tidak seperti di masjid lainnya. 

Sabornaya, yang dibangun tahun 1904 oleh arsitek Nikolai Alekseyevich Zhukov, pembangunannya disponsori oleh seorang saudagar, Yusupovich Yerzin. Hanya butuh waktu lima bulan untuk mendirikan tempat beribadah ini. Imam masjid pertama, Badriddin Hazrat

MUSLIMIN DAN MUSLIMAT DI RUSIA. Berbagi pengalaman dalam syi'ar Islam
MUSLIMIN DAN MUSLIMAT DI RUSIA. Berbagi pengalaman dalam syi'ar Islam
Alimov, mengajukan izin kepada pemerintah Moskow untuk menggunakan masjid itu sebagai tempat beribadah pada 27 November 1904. 

Pada perang Dunia I dan II, bangunan ini menjadi tempat penggalangan bantuan dari masyarakat untuk para pejuang di medan perang. Bahkan pernah juga digunakan sebagai tempat perlindungan.
Tahun 1960-1970, Para imam masjid mempunyai peran besar dalam mencairkan hubungan antara Uni Soviet dan dunia Islam, termasuk negara-negara Arab. Hubungan dengan negara-negara tetangga mencair. Presiden Mesir Gamal Abdul Naser, Presiden Libya Muammar Khadafi, Presiden Iran Muhammad Khatami, Presiden Turki Abdullah Gyul, PM Malaysia Mahathir Muhammad dan Presiden Indonesia pertama Soekarno, pernah berkunjung ke masjid agung ini. 

Bangunannya memang tidak memadai untuk menampung umat Islam Moskow, yang mencapai 2,5 juta jiwa. Oleh karena itu, Presiden Federasi Rusia Dimitri Medvedev pun akhirnya menyetujui bangunan ini diperluas. Luas totalnya lebih dari 26.000/m2. Kompleks itu meliputi masjid, gedung dewan pengurus, gedun serbaguna, dan tempat perbelanjaan. Masjid in mampu menampung sekitar 6.000 jama'ah.
Saya bisa merasakan semangat kaum muslim disini. Usai shalat, jama'ah biasanya saling berbagi pengalaman mereka dalam syi'ar Islam. 

Kisah yang selalu menarik perhatian sesama umat disana adalah cerita dari jama'ah yang asalnya dari Tatarstan, wilayah Rusia, yang didominasi umat muslim, dan umat dari wilayah Chechnya, yang sejak lama ingin memisahkan diri dari Rusia. 
 
SVET ZACHAROV. Cinta Indonesia
SVET ZACHAROV. Cinta Indonesia

Salah satu imam masjid Sabornaya yang saya temui, Itdar Alautdinov, mencritakan, zaman Uni Soviet, kaum muslim beribadah sembunyi-sembunyi. Jika ketahuan oleh mata-mata KGB, mereka bisa dikenai hukuman berat.

Selalu Berbatik
Pemerintah Rusia kini ingin menunjukkan keseriusan mereka, menghargai masyarakatnya memeluk agama menurut kepercayaan mereka masing-masing. Salah satunya dengan memberi izin berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi Muslim yang diadakan di Pillar Hall of Unions, atau Koloni Zall, tahun 2009. Tempat ini adalah tempat dahulu mayat Lenin disemayamkan, sebelum disimpan dalam mausoleum di Lapangan Merah. 

Perwakilan dari 40 negara, termasuk Indonesia, hadir. Adalah Dewan Mufti Rusia, Organisasi Konferensi Islam atau Oki, dan Kementerian Luar Negeri Rusia yang menggagas acara ini. Syaikh Ravil Gaitnudin, pemimpin Dewan Mufti Rusia, berharap bisa mempererat hubungan Rusia dengan negara-negara muslim. Wajar, bila mengingat jumlah umat Islam Rusia hampir 25 juta jiwa. Mungkin saja, suatu saat negara ini menjadi kekuatan baru Islam dunia. 

Beruntung sekali saya bisa berkenalan dngan Svet Zacharov, salah satu peserta KTT Muslim, yang lancar sekali berbahasa Indonesia. Bukan hanya itu, beliau yang pernah bekerja sebagai wartawan di Harian Merdeka masa ke pemimpinan (alm.) B.M. Diah, paling suka mengenakan batik, tanda kecintaannya kepada Indonesia. Era 1980-an, Zacharov pernah menjabat wakil kepala penerangan Kedutaan Besar Uni Soviet di Jakarta, selain sebagai koresponden untuk Uni Soviet dan Eropa Timur. 

Zacharov, kakek tiga cucu yang sering menulis ihwal Indonesia bagi media massa Rusia, adalah alumnus Fakultas Ketimuran Jurusan Indonesia di Institut Negeri Moskow. Ia juga telah menerbitkan kamus percakapan Indonesia-Rusia. 

ST/FT: YS Daya, berbagai sumber/Thanks to: Yulika Sastria Daya & Ninok Hariyani, executive producer Jejak Islam*AP


Sumber (Majalah alKisah No. 11/ Tahun IX/30 Mei-12 Juni 2011)

Jumat, 24 Juli 2015

Islam di Rusia (Bagian 1)

Islam di Rusia (Bagian 1)

Potensial Menjadi Kekuatan Baru Islam Dunia

Yulika Sastria Daya, host JEJAK islam dan Backpacker yang rerun di TV One, ketika bertugas ke Moskow berhasil melihat perkembangan komunitas muslim di Negeri Beruang Merah itu dari dekat. Pengalamannya ia ceritakan untuk pembaca alKisah... 

RUSIA, negara yang berada di sebelah utara benua Asia dan timur benua Eropa, kini memberi kebebasan warga negaranya untuk memilih agama menurut kepercayaan masing-masing. Padahal waktu negara ini masih menjadi bagian dari Uni Soviet, ajaran agama apa pun tidak diperbolehkan berkembang disini. Seluruh tempat ibadah ditutup. Literatur agama dimusnahkan. Pemimpin umat beragama pun memperoleh tekanan keras. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk bersosialisasi. Namun kondisi ini berubah membaik, sejak Uni Soviet jatuh tahun 1991. Rusia memberi kebebasan warga negaranya untuk memeluk agama sesuai kepercayaan mereka masing-masing. 

Mayoritas penduduk Rusia kini, hampir 80%-nya memeluk agama Kristen Orthodoks. Pemeluk agama Islam sendiri sekitar 25 juta jiwa atau 15% dari total penduduk Rusia yang keseluruhannya sekitar 145 juta jiwa.
Muslim di Rusia sebagian besar berada di Tatarstan dan Bashkirs. Sebagian lagi tinggal di antara suku bangsa minoritas, seperti Dageshtan, Ingushetia, dan Chechnya. Selain penduduk asli, status pemeluk agama Islam di sana awalnya imigran dari negara tetangga yang dulu merupakan bagian daru Uni Soviet, seperti Kirgistan, Uzbekistan, dan Kazakhstan. 

Menurut catatan sejarah, syi'ar Islam pertama kali masuk di wilayah Dageshtan pada abad kedelapan. Tahun 922 Masehi, pemerintah Islam pertama berdiri dengan nama Volgabulgaria. Tidak lama kemudian, bangsa Tatarstan ikut memeluk agama Islam, hingga akhirnya menjadi mayoritas Islam terbesar di Rusia. 

7.000 Masjid
Melihat perkembangan agama Islam di Rusia sungguh mengharukan. Tahun 1522, sejarah kelam penindasan kaum muslim di Rusia tidak bisa dilupakan. Berawal dari penakhlukan Kazan, ibu kota Tatarstan, ketika Tsar Rusia berkuasa. Masjid-masjid dihancurkan. Terjadi diskriminasi. Umat Islam disana hanya diperbolehkan bekerja di sektor rendahan. Gerak mereka dibatasi di semua bidang. 

Penderitaan kaum muslim di negara ini berlanjut dengan pengusiran bangsa Tatarstan. Mereka diminta memilih: tinggal di wilayah yang sangat jauh di Rusia, atau masuk dalam kekuasaan Ottoman Turki. Tidak mengherankan bila mayoritas bangsa Tatarstan kini tinggal jauh dari tanah airnya sendiri. 

Penderitaan umat Islam belum berakhir. Rezim komunis ketika pemerintahan Uni Soviet berkuasa melarang semua ajaran agama berkembang. Masjid-masjid ditutup dan dialihfungsikan menjadi gudang. Bahkan ketika Stalin berkuasa tahun 1944, deportasi besar-besaran terjadi. Kaum muslim terpaksa pindah ke negara satelit Uni Soviet, seperti Uzbekishtan, Kazakhstan. Ratusan ribu orang bekerja dalam skala industri massif sistem Gulag Soviet. 

Namun kondisi membaik setelah pemerintahan komunis Uni Soviet hancur tahun 1991. Kehidupan beragama, terutama syiar Islam, tidak lagi mendapat tekanan dari pemerintah. Selama 15 tahun terakhir, perkembangan muslim di Rusia meningkat 40%. Tempat beribadah pun bebas dibangun. Sekitar 7.000 masjid kini berdiri dan digunakan untuk kaum muslim beribadah.


Kamis, 23 Juli 2015

Jasadnya tak Tersentuh Makhluk Bumi

Jasadnya tak Tersentuh Makhluk Bumi

Bukankah sudah begitu banyak bukti yang Allah SWT perlihatkan di muka bumi ini agar manuisa menjadi sadar? 

Orang-orang ramai mengitari pemakaman. Mereka adalah sanak kerabat yang akan menyaksikan pemindahan kerangka di pemakaman itu. Sebagian tanah makam akan di jadikan jalan umum untuk memperlancar arus lalu lintas yang semakin ramai.

Pada awalnya eksekusi itu berlangsung alot, tidak semua ahli waris mau menerima rencana proyek itu. Mereka menyayangkan mengapa harus tanah makam yang dikorbankan.
Satu per satu kerangka mulai dipindahkan dengan hati-hati. Beberapa penggali kubur terus berkutat dengan tanah, membongkar kuburan yang telah ditentukan. Seorang Ustadz ikut serta mendampingi ahli waris dalam setiap proses pemindahan.

"Kuburan H.M. Shaleh, mana ahli warisnya" tanya si Ustadz ketika akan membongkar makam terakhir. Para penggali kubur bersiap-siap dengan cangkul dan linggis.
Tiga wanita berpakaian muslim dan empat pria maju ke dekat kuburan. Ingin menyaksikan makam ayah mereka digali.
"Mari kita berdoa agar penggalian berlangsung lancar, dan semoga arwah almarhum tenang dan damai, karena kerangkanya akan dipindahkan," kata sang Ustadz.

Mereka berdoa membaca surah Al-Fatihah, dan para penggali mulai mengerjakan tugasnya.
Panas mentari mulai terasa menyengat. Walau sudah dimulai agak pagi, tetap saja, ketika giliran makam terakhir digali, panas mulai menyengat. Orang-orang yang ramai di pemakaman itu mulai kegerahan, beberapa wanita mengembangkan payung yang dibawanya. Peluh mengucur di wajah para penggali kubur.
Dengan cepat mereka sudah hampir sampai di posisi jenazah bersemayam. Namun tiba-tiba seorang penggali kubur meloncat keluar sambil bertakbir dan mengucapkan istighfar. "Allahu Akbar, astaughfirullah."
Orang-orang yang kegerahan dan berteduh di bawah beberapa pohon kamboja mendekat. "Ada apa? Ada apa?"
"Kain kafannya utuh, masih terikat dengan sempurna, tidak ada cacat sedikitpun," tutur sang penggali kubur dengan napas terengah-engah.
Beberapa ahli waris H.M. Shaleh mendekat, begitu juga sang Ustadz, yang mengawasi penggalian.
"Teruskan saja. Mungkin salah seorang anaknya bisa mendampingi?" kata sang Ustadz berusaha menenangkan situasi.
Salah seorang putra almarhum mendekat dan masuk ke liang kubur bersama penggali kubur.
Benar apa yang dikatakan oleh pengali kubur, jasad ayahnya masih utuh, kain kafannya tidak ada robek sedikitpun.
Anaknya itu mengingat-ingat, ayahnya wafat ketika dia berumur lima tahun sekarang dia sudah berumur 45 tahun, empat puluh tahun yang lalu, tapi jasad ayahnya masih utuh.
Keluarga beramai-ramai mendekat ke liang lahat.

Dengan hati-hati para penggali kubur mengangkat jasad ke tepi liang kubur. Subhanallah, masih berat.
Pekik takbir dan tasbih yang membahana membuat orang ramai berkerumun di lokasi kuburan itu. Terlihat wajah sekilas almarhum masih utuh dan tampak mengulas senyum.
Keranda diturunkan dari mobil jenazah yang disiapkan untuk membawa kerangka-kerangka.
"Ahli waris mohon membuka kain kafan, untuk memastikan apakah jasad benar utuh atau tidak," ujar si Ustadz menyarankan.

Seorang wanita paruh baya memberanikan diri untuk mendekat, ia anak kedua H.M. Shaleh. Ia berdoa dekat jasad ayahnya lalu membuka ikatan kafan satu persatu.
Setelah semuanya terbuka, pekikan takbir kembali terdengar. Keluarga seolah menyaksikan kembali wajah H.M. Shaleh ketika hidup. Tidak kurang sesuatu apa pun, persis seperti ketika dikuburkan 40 ahun yang lalu.

Beberapa kerabat yang lain bertangisan tapi juga memuji kebesaran Allah SWT. Sebuah kejadian langka, yang tentu menyimpan banyak kisah dibalikna.
Menjelang adzan zhuhur berkumandang, prosesi pemindahan jenazah berakhir.
Siapakah dia, yang jasadnya tidak disentuh oleh makhluk bumi? Siapakah dia, yang diharamkan jasadnya dimakan makhluk di dalam tanah, seperti yang dijanjikan oleh Allah SWT untuk setiap kekasih yang dicintai-Nya?

Hafizh yang Sederhana 
Kawasan Bojong Gede, Bogor, di awal tahun '40-an' tidaklah seramai sekarang. Kebun buah masih banyak ditemui di mana-mana. Tanah yang subur dan air yang melimpah membuat penduduknya hidup dalam kecukupan. Sebagian besar penduduk menjadikan pertanian, terutama berkebun buah, sebagai mata pencaharian mereka.
Tapi ada satu keluarga, yang dianggap alim oleh penduduk, hanya berkebun ala kadarnya. Mereka turun temurun lebih berfokus pada dakwah dan menjadi guru mengaji.

Pak Shaleh, yang menjadi motor keluarga itu, adalah keluaran pesantren ternama di Jawa Timur dan seorang yang hafal Al-Qurlan. Ia dan keluarganya adalah pendakwah yang pantas diteladani dalam segala hal. Tidak pernah mengeluh menghadapi kehidupan, menuntun penduduk dengan ikhlas untuk mengaji dan mengerti agama.
Ia tidak pernah menonjolkan diri, tapi agama yang dipeluknya membuatnya dihormati oleh orang lain kerena ilmunya. Bagi seorang penghafal Al-Qur'an, akhlaq adalah sesuatu yang sangat utama. Karena, kalau ada yang berjalan tidak sesuai dengan syari'at yang telah ditentukan oleh Allah, sulit banginya untuk menjadi seorang penghafal Al-Qur'an. Menjadi seorang hafizh bukanlah hanya perkara hafal menghafal, tapi juga mencakup seluruh keutamaan yang harus dipunyai.

Pak Shaleh mendidik keluarganya dengan penuh kasih sayang, mengamalkan agama dengan ikhlas, dan hidup dengan sederhana sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW. Akhlaqnya yang begitu mulia dikenang penduduk dan lekat dalam memori mereka. Ketika nama Pak Shaleh disebut, beberapa orang tua yang masih hidup dan pernah bertemu dengannya menyebut namanya dengan ta'zhim. Dan ketika diceritakan ihwal peristiwa yang baru terjadi menyangkut jasad Pak Shaleh, mereka tidak kaget.
Pak Shaleh tidak pernah muluk-muluk dalam hidupnya, apa yang dilakukannya adalah apa yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dalam bergaul dengan sesama, mengahadapi obyek dakwah, bergaul dengan keluarga, semuanya mencontohkan Rasulullah SAW.

Sifat sederhana dan menerima apa adanya tercermin dari hidupnya sehari-hari. Dalam membagi ilmu, ia tidak pernah menyembunyikan apapun. Banyak kader yang dibinanya dengan tulus untuk melanjutkan estafet menghafal Al-Qur'an, dan semuanya tidak pernah dipungut bayaran.
Karena apa yang dilakukan tidak pernah sedikit pun keluar dari rel yang telah ditentukan oleh Allah SWT, hidupnya pun dijamin oleh Allah SWT. Bukankah Allah SWT tidak pernah ingkar dengan janji-janji-Nya? Apa saja kebutuhan hidup terpenuhi, walau ia tidak pernah meminta imbalan apapun dari kegiatan dakwah yang dilakukannya.

Banyak sekali keutamaan yang dimiliki Pak Shaleh, sehingga ia pun jadi teladan bagi masyarakat di sekitarnya. Mereka yang dulu kanak-kanak dan kini sudah sepuh mengenangnya sebagai guru mengaji yang penyayang dan berhati lembut. "Beliau tidak pernah marah, dan dengan telaten membetulkan setiap hafalan muridnya yang sering salah," kenang seorang laki-laki sepuh yang ketika menjadi muridnya masih duduk di sekolah rakyat.

Harimau mati meninggalkan belang, manuisa mati meninggalkan nama harum yang selalu dikenang. Berita tentang jasad utuhnya ketika kuburan digali menjadi buah bibir di kawasan Bojong. Itu adalah salah satu bukti kebesaran Allah SWT perlihatkan di muka bumi ini agar manusia menjadi sadar? Tapi mengapa kebanyakan manusia tidak memikirkannya dan tidak mengambil pelajaran?  
IMR*AP 



Sumber (Majalah alkisah No. 19/Tahun IX/19 September-2 Oktober 2011)

Selasa, 21 Juli 2015

Mengungkap Pesona Halmahera Barat


Mengungkap Pesona Halmahera Barat
INDONESIA, negara yang tidak ada habisnya akan keindahan. Kultur yang beraneka ragam. Ditambah lagi adanya berlian hidup Indonesia, flora dan fauna.

Lokasi
Kabupaten Halmahera Barat berada di Pulau Halmahera yang terletak diantara 1o - 3o Lintang Utara dan 125o - 128o BT berbatasan dangan Kabupaten Halmahera Utara (Utara), Laut Maluku dan Kota Ternate (Barat), Halmahera Selatan dan Halmahera Timur (Timur), dan Kota Tidore Kepulauan (Selatan).

Luas wilayah kabupaten Halmahera Barat mencapai 22.346 km2 darat, dan 11.633,42 km2 laut. Ada sekitar 123 pulau kecil di Halmahera Barat, namun hanya 2 pulau yang berpenghuni sisanya pulau tanpa penghuni.  

Penduduk
Ada beberapa etnis yang beragam tinggal di Halmahera Barat mulai dari suku lokal dan suku pendatang. Suku lokal diantaranya suku Sahu, Loloda, Wayoli, Gamkonoro, Gorap, Tobaru dan suku Ternate. Suku pendatang seperti suku Jawa, Sangir, Ambon, Bugis, Gorontalo dan Makian. Dengan adanya banyak suku, pastinya menambah keragaman budaya di Halmahera Barat.  

Festival
Mengungkap Pesona Halmahera Barat

Festival Teluk Jailolo merupakan acara tahunan di dekat pelabuhan Teluk Jailolo. Festival itu memang dimaksudkan sebagai pintu masuk untuk menarik wisatawan datang ke Halmahera Barat. Selain itu, wisatawan juga diharapkan mengunjungi tempat wisata yang di tawarkan. Bukan hanya festival ritual adat juga menjadi magnet untuk menarik para wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Seperti ritual adat makan bersama di rumah adat atau biasa disebut Orom Sasadu, di Desa Gamtala, Kecamatan Jailolo. Yang merupakan ritual syukur atas keberhasilan panen. Wisatawan juga dapat berbaur dengan masyarakat menikmati makanan tradisional khas Halmahera Barat dan minum saguer atau arak dari nira pohom aren.

"Makanannya enak meski agak pedas," kata salah seorang wisatawan asing sambil menikmati alunan didiwang, tifa yang terbuat dari pohon aren sekitar 3 meter, yang energik.

Orom Sasadu adalah salah satu sajian utama dalam Festival Teluk Jailolo. Dalam masyarakat adat Halbar, ritual biasanya digelar pada Maret dan Juni. Dahulu ritual adat ini bisa diselenggarakan selama 9 hari 9 malam, atau 7 hari 7 malam, 5 hari 5 malam, 3 hari 3 malam, atau hanya 1 hari 1 malam tergantung dari hasil panen. Namun sekarang umumnya hanya digelar satu hari satu malam yang diisi dengan makan dan menari.

Ritual adat lain yang disajikan dalam festival adalah sigofi ngolo atau bersih laut, yaitu membersihkan , laut dari segala niat buruk, meminta izin alam untuk memulai perayaan dengan tulus. Ritual ini digelar pada pagi hari menjelang acara puncak, yaitu pergelaran tari Sasadu on the Sea.
Ritual sigofi ngolo dilakukan dengan arak-arakan sejumlah perahu kayu bermotor yang dihiasi umbur-umbul dan janur, dari Teluk Jailolo menunju Pulau Babua di tengah Teluk Jailolo.

Wisata
Mengungkap Pesona Halmahera Barat

Mengungkap Pesona Halmahera Barat
Disamping banyak-nya wisata alam disana keindahan alam bawah laut Jailolo merupakan wisata andalan Halmahera Barat. Teluk Jailolo merupakan kawasan yang tepat untuk melakukan snorkling, fishing maupun jet sky. Selain itu, struktur bawah laut yang berbentuk menurun, keragaman biota laut yang langka seperti nudybranch, japanese spy, dan juga adanya wreck di dasar laut merupakan surga bagi para penyelam.

Industri menyelam terbilang masih muda karena baru berkembang seiring penyelenggaraan Festival Teluk Jailolo yang pertama kali diadakan pada 2009. Ada 20 tempat penyelaman di Teluk Jailolo dan 10 tempat penyelaman di Loloda yang dapat dicapai dalam waktu dua jam perjalanan laut menggunakan perahu cepat dari pelabuhan Jailolo. Wisatawan juga dapat berenang di Pantai Bubanahena yang airnya tenang dan jernih sambil menikmati pemandangan deretan Gunung Kiematubu di Pulau Tidore, Gunung Meitara di pulau Meitara, Gunung Gamalama di Pulau Halmahera, serta Gunung Hiri di pulau Hiri, sebuah pulau kecil di seberang pantai utara Pulau Ternate.

Bagi wisatawan yang tidak ingin berurusan dengn air, banyak alternatif tempat wisata bahari yang dapat dikunjungi. Paling tidak ada 13 pantai yang ditawarkan, beberapa diantaranya terdapat sumber air panas sehingga air lautnya hangat. Ini seperti Pantai Air Panas di Desa Galala, Kecamatan Jailolo, sekitar 1 kilometer dari pelabuhan Jailolo.
Sejumlah desa juga menawarkan paket wisata sesuai potendi masing-masing. Ada 10 desa wisata, salah satunya adalah Desa Gamtala yang menawarkan wisata menyusuri hutan bakau. Selain itu, masih ada wisata alam lainnya seperti Air Terjun Kahatola yang unik di Kecamatan Loloda.
Mengungkap Pesona Halmahera Barat

Memberi hasil 
Mengungkap Pesona Halmahera Barat

Dengan tema yang berbeda dari tahun ke tahun, Festival Teluk Jailolo menampilkan potensi wisata alam dan budaya setempat. Hasilnya, kunjungan wisata bertambah dari tahun ke tahun.
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, jumlah wisatawan pada 2011 tercatat 5.945 orang, pada 2012 sebanyak 15.500 orang, dan pada 2013 sebanyak 37.186 orang.
Akses ke Halmahera Barat juga kian mudah. Setelah menempuh perjalanan udara dari Jakarta ke Ternate (Bandar Udara Sultan Babullah) sekitar 3,5 jam, wisatawan dapat melanjutkan dengan perjalanan laut menggunakan perahu dari Pelabuhan Dufadufa, Ternate, ke Pelabuhan Jailolo selama 45 menit.
Penerbangan dari Ternate ke Jailolo sudah menampakkan kemajuannya, sekarang bisa setiap saat karena ada banyak kapal. Berbeda dengan dulu kalau berangkat pagi baru bisa pulang esok hari. Jadwal penerbangan ke Ternate ada beberapa kali. Dari Jakarta ada 9 kali penerbangan, dari Surabaya ada 4 kali, Makassar 2 kali, dan Manado 2 kali. Jika ingin menginap di Jailolo, ada satu hotel dan sejumlah penginapan. Bagi wisatawan yang tidak ingin merogoh kocek besar bisa tinggal di rumah penduduk, tersedia sekitar 70 kamar, dengan tarif Rp 100.000 perkamar kapasitas dua orang. Tentunya selain lebih murah juga bisa menikmati langsung kearifan lokal.




Sumber referensi: (Kompas)