This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 September 2019

Binar Nista (Karya Ila Rizky Nidiana)

Pada mulanya adalah amarah
lalu merah merekah darah
bersimbah luka
merapal kalah di ujung jalan

Pulanglah!
Pada Tuhan-mu
karena agamamu
bukanlah agamaku

Cukup!
Abaikan kelakar dustamu
Jangan nistakan agamaku!
Hanya demi secercah fana dunia



Biodata Penulis
Ila Rizky Nidiana sudah menulis 18 buku antologi. Ia merupakan Leader d'BC Network Oriflame grup Growfaster.

Minggu, 19 Juli 2015

Orkestrasi Kaligrafi (Manusia Perahu Sudianto)

puisi
ke tubuh senja;malam adalah jejak 25 pengembara. Sementara siang adalah catatan matahari dari hadis dan firman berlepasan. Dalam ketiak debu yang melansirkan tarian gelombang; pedih dedaunan dan debur waktu gentayangan menjarah segala ruang. Atas nama surga. Alif-alif itu belum mengakar di keningmu; padahal pasir telah mewiridkan lagu pesisir; burung-burung bersila melambaikan doa-doa.

Dengan 1.000 desah pengembara. Udara hanya berlabuh sebelum syafa'at tumpah. Dalam amuk sunyi gua-gua menakik merdu cuaca magis. Lereng berkabut cahaya dari pancaran rekah fajar. Lalu Kafilah hujan berdebu lumpur; mengabarkan rinai kudus khaligrafi, di antara lembap dingin yang ditumbuhi pohon berdaunan alif.

Sebelum dan sesudah alif menguras cakrawala. 
Ayat berbatang langit. Roh menawarkan perih dedaunan. Alif telah menelikung jejak matahari; bersama merkuri di batu-batu dan rembulan atas kasur.

Tubuh lancip serupa ujung jarum telah menganga. Di belakang rumah, hotel, restoran, dan meja-meja berantakan oleh tumpukan nafsu. Alif-Mu tegak alif-Mu terapung alif-Mu menggertak pelan. Bermiliar mata menangkap nada perih. Akhirnya wajah-wajah jatuh berguyur; sehingga warna malam memudar mengeruhkan semesta dogma, ideologi pada nisan sendiri.

Sabtu, 18 Juli 2015

Puisi: Mati dalam Ketakutan (Karya Aqsha Al Akbar)

Kata-kata apa yang dapat kukatakan nanti pada anak dan cucuku?

Hilangnya fondasi melibatkan caci.
Sikap apa yang dapat kutunjukkan nanti pada cucu dan cicitku?
Hilangnya budi dan moral, mendegradasi impian suci.

Renta dan gelisah aku mendikte keluguan batin.
Perlahan kucurahkan desakan terakhir menuju harapan.
Ini bangsa semakin tercabik, diguncang jutaan sabda yang
menyeret luka.
Pada apa sesungguhnya aku berkata, seandainya kupunya
rangkaian cinta?

Dogma dan paradigma dikikis habis, dari pedang fundamentalis.
Pembenaran hanya alat menentukan kebenaran.
Fatwanya membelenggu kasidah kehidupan.
Dan keresahan hanyalah sebagian dari tembang yang sumbang.

Benarkah ini drama yang disusun dari barisan ayat?
Yang dipuja dan disematkan dalam cerita tentang pembunuhan?
Masih, aku renta dan gelisah mendikte plot yang tersaji
di tengah bangsa ini.
Dan klimaks hanya milik kebengisan semata.

Sudah, sudah aku berbicara dalam nuansa makian.
mencoba membakar naskah yang perpeluh darah.
Tapi, aku tergerus dalam arus tak bermuara.
hanyut beserta kata dan harapan.
aku malu, aku sedih, aku terus renta dan gelisah melihat mereka,
mereka yang turut bisu dan tuli,
mereka yang mendengar kala bicara, mereka yang berbicara kala
mendengar.
Mereka yang hanya bisa sujud ketika satu pada angkuh.

Oh rakyat, rakyat yang ini dan itu,
rakyat teriak dalam diam,
rakyat menangis dalam sendu
rakyat yang renta dan gelisah menunggu kebijaksanaan waktu.
Berakhir hilang tergulung debu.

Oh rakyat, rakyat yang banyak dan yang sedikit,
rakyat yang membunuh kesesatan.
Rakyat yang menantang kebiadaban.
Terpecah dalam ruang dan berangkulan pada nisan.

Sekali lagi, aku renta dan gelisah mendikte kemarahan.
Tersesat dalam labirin kebencian.
Terombang-ambing dalam candu fanatisme.
Hingga terbunuh pada konklusi renta dan kegelisahanku.



Biodata Penulis
Aqsha Al Akbar: Mahasiswa S-1 Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang.

Jumat, 17 Juli 2015

Puisi: Tuan Bukan Tuhan (Karya Dwi Pratiwi)


Tuan, lihatlah itu
Mereka berseteru
Atas nama agama yang tak padu
Dan dengan nama besarmu
Pada kaummu kau menyeru
Hukum kaum sesat itu..!
Hukum kaum berdosa itu..!

Tuan, sekarang aku mau bertanya
Bukankah Tuhan yang berhak menghukum?
Tapi, kau rangkai hukum sendiri bagi mereka yang salah
Bukankan Tuhan yang menentukan pahala dan dosa?
Tapi, kau suguhkan dosa bagi mereka yang tak sepaham
Mengapa kau ambil tugas Tuhan?
Apa kau merasa lebih berkuasa dari-Nya?
Mengapa tak sekalian Kau ciptakan surga untukmu sendiri
Dan kau anugerahkan neraka bagi yang kau anggap berdosa.

Tuan, tahukah Tuan!
Tak selamanya
kita berpegang pada satu tali yang sama
Tak sepantasnya
kau mengolok-olokan keyakinan
yang berlainan dengan akidahmu
Sadarkah Tuan
Kau bukan Tuhan.



Biodata Penulis
Dwi Pratiwi lahir 20 tahun yang lalu. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Bahasa Inggris.

Kamis, 16 Juli 2015

Puisi: Sajak untuk Ibu di Hari Kematiannya (Karya Dianna Firefly)


(1)
Sepanjang jalan menuu kampung kita, aku tak bisa berhenti
berpikir tentang kau, Ibu
Apakah kau masih bertelut di sore hari dan sebut namaku dalam
doamu?
Atau tidak lagi... karena kau tak mau mati di balik jeruji besi

Sekarang aku sudah pulang dan kutemukan sajadahm
terbentang di hadapan para hulubalang
Mereka meradang! Mereka berang! Kau berpulang...

(2)
Aku ingat, Bu! Terakhir kali kau menanak nasi dan memasak
daun pepaya di hari bom meledak di ujung kota
Lelaki-lelaki berhamburan keluar membawa senjata
Mereka berteriak soal agama
Katamu padaku,"Negara ini sudah lama binasa. Ibu tak sanggup hidup terlalu lama...."




Biodata Penulis
Dianna Firefly lahir pada tahun 1991 di sebuah kota kecil di Kalimantan Barat. Ia tercatat sebagai Mahasiswi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Tanjungpura.

Rabu, 15 Juli 2015

Puisi: Sekelumit Debat; Saya dan Negara (Karya Arman Rozika)

saya bilang agama itu segi empat
dia bilang agama itu segitiga
saya bilang agama itu cokelat
dia bilang agama itu jingga
saya bilang agama itu barat
dia bilang agama itu tenggara
saya ucapkan keparat
besoknya saya dipenjara



Biodata Penulis
Arman Rozika: Mahasiswa S-1 Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang. Lahir di Ketara, Lombok Tengah, NTB

Selasa, 14 Juli 2015

Puisi: Parodi Merah Putih (A.D. Rusmianto)

Ketika kotamu menjadi rusuh
orang cepat-cepat bicara bijak
dengan melupakan bajak
dan kain merah putih yang lusuh

ketika tanahmu menjadi darah
orang cepat-cepat cari aman
dengan mengatasnamakan Tuhan
kemudian sembunyi di balik gelisah

ketika bangsaku menjadi risi
orang cepat-cepat cuci tangan
dengan membuang muka pada persoalan
kemudian pura-pura ikut sidang
yang dianggap tempat hidangan makan

lalu di mana ketika orang berteriak merdeka?



Biodata Penulis
A.D Rusmianto atau Agus Dwi Rusmianto. Tulisannya masuk di antologi Soulmate: 12 Penyair Tasikmalaya (MIT, 2011), Dear Love (Hasfa Publisher, 2011e, Bilakah Tuhan Jatuh Cinta (Hasfa Publisher, 2011), bunga rampai Selingkuh Seringku (Hasfa Publisher, 2011), urutan pertama dari 5 besar Puisi Award Writing Revolution, antologi Melangitkan 100 Penyair Membumikan 100 puisi.

Senin, 13 Juli 2015

Puisi: Debuman Batu dan Reruntuhan Mata (Karya Ahmad Moehdor Al-Farisi)

Lelaki bersorban embun
Mengeja sungai
Mengeja batu
Mengeja ikan-ikan
Dari atas jembatan rantas ia menulis nama Tuhan
Dengan pensil tumpul tak berbatang berpengangan
Seperti batu tergantung di puncak bukit
menangis dan berdebum ke sungai keruh

Timbul-tenggelamnya arus mencekik masa lalu,
tertinggal di saku, wajah Tuhan, dan rumput di tepian
Tak berdaya melayani kelamin sungai
Adakah bola matanya mulai berjatuhan
Mengikuti jejak batu yang berdebum

Di dalam kekeruhan ia menjumpai pigura tak berwajah
Menggeliat mengiringi desah air
Persis desahan Tuhan di dalam kitab-Nya yang mengalir
Dari waktu ke waktu hanyalah debuman batu
Dan bola matanya yang runtuh.

Biodata Penulis
Ahmad Moehdor al-Farisi yang sering disapa Cak Ndor ini adalah ketua umum Jendela Sastra (2009 s.d. 2010), Divisi Dokumentasi KOSTRA (Komunitas Sanggar Sastra) UNIROW Tuban (2010 s.d. 2011), dan sekarang dipercaya menjadi presiden KOSTRA (2011 s.d. 2012). Meraih juara dan nominasi terbaik
Nusantara dalam berbagai sayembara. Beberapa bukunya yang sudah terbit antara lain: Jual Beli Bibir, Sehelai Waktu, Sebongkah Kertas dan Wajah Emak, Di Sebuah Surau Ada Mahar untukMu, Sepucuk Surat untuk Rasulullah, Fiksi Mini, Mimpi Kecil, dan Malam pun Menyetubuhiku.

Minggu, 12 Juli 2015

Puisi: Tuhan Manusia (Karya Angga Aryo Wiwaha)


(atas sebuah kegeraman)

di keramaian matahari
beberapa tuhan berjajar sebaris bumi
aku meledek mereka sampai
kubuang tuhan di masing-masing insan




di trotoar jalan bumi
kakek renta berjalan congkak
dia tahu, Tuhannya adalah yang paling benar
satu-dua anak melihatnya
kemudian setiap manusia berpaling pergi
malu
menyimpan setiap tuhan di saku celana mereka.

Sabtu, 11 Juli 2015

Puisi: Gadis yang Membunuh Kecewa (Karya Dianna Firefly)

Gadis itu pernah bertanya, di mana kecewa merenggang nyawa
yang berakar pada setiap liang lahat di ujung desa
yang selalu memanggil pulang pemuda-pemudi dari kota untuk
merenda duka
memaksa tua renta-tua renta ke dalamnya
lewat mata yang binar asa meski sembab penuh tanya
gadis itu membunuh kecewa

Ia bertanya lagi, di mana kecewa merenggang nyawa
yang menyerupai batu nisan hina dina
yang selalu memanggil pulang pemuda-pemudi dari kota untuk
mengukir nama mereka
Memaksa tua renta-tua renta mengeja aksara di dalam
makamnya
Lewat mata yang binar asa meski sembab penuh tanya
gadis itu membunuh kecewa untuk kedua kalinya

Sekali waktu ia bertanya lagi pada saya, di mana kecewa
meregang nyawa
yang menjelma jadi roh-roh penghuni neraka
yang selalu memanggil pulang pemuda-pemudi dari kota untuk memanjatkan doa memaksa tua renta-tua renta mencipta cerita petuah tentangnya
Lewat mata yang binar asa meski sembab penuh tanya
gadis itu membunuh kecewa tanpa sisa

Bertahun telah lalu, kami tak pernah bertemu
segala lesat hilang, kabarnya ia mati tenang
bawa segala kecewa dari semua rezim di tanah tercinta
Dengan senyum bahagia ia berkata:
"Jangan paksa pemuda-pemudi, jangan bunuh tua renta-tua
renta!
Paksa diktator-diktator gila, penguasa gila mati segera!
Revolusi!"

Gadis itu menunggu di alam baka.

Jumat, 10 Juli 2015

Puisi: Ke Atas Langit (Karya Shinta Miranda)

Hari-hari adalah senja temaram, tak nampak jemari yang
kukunya menghitam, selalu menyisir rambut laksana surai
jagung tua, yang akan dipipil untuk makanan satwa
Senja merah membuat rerumputan semakin cokelat tua, tunduk
helainya, tak rela menampung peluh yang datang dari kerut
kening-kening manusia di tanah raga
*orang-orang di sini berlutut dalam tahajud - linangan mata
embun mengalun
*tanah menempuh jalannya ke mana? Tsunami laku buyar ke
atas langit
Adakah hari tiada bersimpah darah, orang-orang menjarah,
menggagahi kemiskinan dengan jubah, alangkah meriah sebuah
pembelaan atas etiadaan, menghapus kemanusiaan

Paculah kuda jantan di mega-mega kemewahan sebuah nama,
debunya menggunung, di atas cakrawala peradaban, maka
bulan sabit terbelah tiga tak beraturan, menetak kulit kepala
dibesarkanlah namanya dan tanah kubur hampa jua

Hari-hari adalah senja temaram, setelah amarah rebah di atas
sajadah dan purna sudah perkara sejarah yang tak punya arah
di sini, tanahku bersimbah darah.

Kamis, 02 Juli 2015

Luka Huluan Luka Si Kulup (Karya Malam Gerimis)

I
si kulup balari malam
menyergap sabit penuh
seluang memancang tiang-tiang usang
rumah panggung tergadai kain sarung si upik-upik
menjaring datuk-datuk ke dalam dekap rok mini dan hot pants
tenggelam sampan-sampan

II
jalan-jalan menelikung
si kulup menjahit silsilah
koyak di dada retak
tak
lagi
batu



Biodata Penulis
Malam gerimis: Nama pena dari Fakhrizal Eka. Tulisannya pernah dipublikasikan di harian Jambi Ekpres, Jambi Independent, Posmetro Jambi, Antologi Puisi Temu Sastrawan Indonesia I (Tanah Pilih) 2007, dan Antologi 100 Puisi Ibu se-Indonesia (2011). Aktif di Teater Oranye-Jambi.

Doa Seorang Hamba yang Senantiasa Melipat Sepi di Bilik Jiwa Terbening (Karya Arther Panther Olii)

Tuhanku, dari-Mu-lah kehidupan bermula. Ketika napas yang Engkau beri kuiramakan bersama detak-detik, aku melafalkan syukur. Aku tak bisa mengukur berapa jarak ke Engkau untuk bisa kuhaturkan sebuah doa. Dalam sekian langkah, dalam sekian tapak, dalam sekian jejak, aku meradang. Aku linglung, Tuan. Sepenuhnya limbung melegakan pandang, melapangkan seru. Kucari-cari rumah-Mu, Tuhan, kucari-cari dengan rerupa bilangan. Aku tak menemu, aku diempaskan semu.


Tuhanku, oleh-Mu-lah pemaafan bertandang. Ketika kobaran amarahku hendak mencari labuhan neraka, aku melihat bayanganku sendiri. Menjejalkannya dengan kelurusan niat. Adalah aku dari segolongan hamba yang dipinggirkan kekuasaan, duniaku sepenuhnya adalah kelabu. Masa laluku pernah meriwayatkan kelaliman , masa kiniku pun mencatat kemungkaran. Aku bahkan tak memahami bisikan nurani. Apa nama sesungguhnya tanah tempat kuberlindung? Apa makna sesungguhnya semesta tempatku melarung?

Tuhanku, untuk-Mu-lah kehampaan bermuara. Ketika kian saja dipaksakan dogma-dogma, cahaya serta-merta menjadi koma. Menjadi pecahan kegelapan yang menyeruak hingga ke tepi mimpi. Betapa kacaunya kenyataan yang menjadi racauan mulut-mulut belut. Llicin dan berlendir sudah kata-kata yang mengudara. Bukan lagi semacam lagu, bukan pula selayaknya puisi.

Oh, Tuhan, kegamangan ini bergulir selaras air mata yang tergadaikan asinnya. Aku hanyalah seorang hamba-papa adanya. Aku sangat ingin menuju-Mu, Tuhan, menuju kemahaadilan-Mu, merasai dan mengaromai segenap cinta kasih yang Engkau jatuhkan di sela nasib dan takdir. Kau beri perbedaan, tapi mengapa dunia mengubahnya menjadi persangkaan yang hina nan biadab?

Tuhanku, hanya kepada Engkau-lah segalanya menemu akhir. Engkkau saksikan metimpangan hati dan jiwa tersakiti. Berkabarlah Tuhan bersama kelembutan fajar. Di sini, di apa pun nama cuaca yang membekapku, aku telah melihat sepi dalam bilik jiwa terbening. Ku hanya ingin hening, Tuhan dan kesejatian cahaya yang mengantar doaku dengan damai ke rumah-Mu.
.
Amin.

Domain Mendung (Manusia Perahu Sudianto)

Meminjam gigil hujan;
lelaki setengah berbulu menerka kelam
di sudut cemara
orang-orang berhamburan memburu sampah; padahal di hadapan bulan makanan siap lahap.

Dalam domain mendung. 12 cucumu terkurung lelap. Jeruji karat menggulung dogma di khilafnya.
kemudian lelaki berbulu itu berpendar membentur sajadah, sujud, dan rak-rak zikir di pangkuan senja. Mantra tajam melesat dari bukit-bukit yang ia anut. Kini abu adalah kepulan padat dari cahaya. Bukan wirid-Mu yang mengalun.

ini langit kelam tempat mendung berhamburan. Surau tanpa atap doa. Takbir menolak terang jendela. Semakin kandas kelam menusuk mendung.

Biodata Penulis
Manusia Perahu adalah nama pena dari Sudianto. Lahir di Pulau Sapeken (Madura). Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumenep. Juara III Lomba Cipta Puisi se-Madura 2010 dengan puisinya yang berjudul "Pemuda Harapan Bangsa" yang diandalkan oleh Komunitas Jiil Ekspsional. Puisinya di muat dalam antrologi Munajat Sesayat Do'a: 100 Penyair Puisi Tingkat Nasional dengan judul karyanya "Merindu Tanah", lomba diadakan oleh FTD (Forum Tinta Dakwah) Riau 2010.

Luka (Karya Joshua Igno)

hai lihatlah tuhan terkapar di taman kota
wajahnya kusut penuh luka
pisau masih menancap di lambungnya
menggumamkan laksa nama manusia
yang telah menganiayanya.



Biodata Penulis
Joshua Igno berkiprah di Dewan Kesenian Kota Tegal sebagai anggota Litbang. Puisi-puisinya termuat antara lain di kumpulan puisi Nyanyian Kemarau (SmarPro, 1996), Diansastro for President (Akademi Kebudayaan Yogyakarta, 2004), dan Persetubuhan Kata-Kata (Taman Budaya Jawa Tengah, 2008).

Senin, 29 Juni 2015

Tuhan Itu Berwarna Hitam (Karya Bayu Gautama)

: Untuk N


Sssttt! Jangan berisik
Di tanah kelahiranku, sedang terjadi pertempuran
Tuhan-ku sedang bertarung dengan Tuhan-mu
Cepat buang KTP-mu!
Sebelum maut menusukkan belatinya di jantungmu

Sssttt....
Sembunyi sini di dekatku
Kita tidak usah ikut-ikut
Biar saja kelewang si merah
Atau pedang si putih
Menebas sesat pikir mereka sendiri

Asalmu dari mana?
Di sini sebaiknya tidak punya Tuhan
Apalagi punya agama

Karenapunya Tuhan yang menempel pada selembar KTP
Seratus orang ditikam ulu hatinya, kemaren
Seratus orang dipenggal lehernya, tadi pagi
Seratus orang ditusuk perutnya, siang tadi
Seratus orang lagi siap dieksekusi, malam nanti
Padahal yang merah dan yang putih
Berasal dari satu budaya yang sama
Samawi!

yang merah merasa paling benar
Begitu juga dengan yang putih

Harusnya Tuhan muncul tadi pagi
Saat bapakku bersama 99 orang lain, dipenggal kepalanya

Biar dua warna itu tahu
Jika Tuhan,
bukan merah atau putih,
seperti yang mereka pikir selama ini

Tapi hitam!



Biodata Penulis
Bayu Gautama: Saat ini menetap di Perum Suka Seuro Blok M-3 Kota Baru, Cikampek.

Laknat (Karya Hamdani Chamsyah)

Laknat

Mereka telah menodai nama Tuhan dengan darah
Melarang sujud, yang mereka anggap sujudku, sujud LAKNAT

Apa yang salah dengan apa yang kusujud?
Hingga mereka menutup tempatku bersujud

Adakah kalam Tuhan yang menyeru pertikaian, pembunuhan,
penyiksaan?
Melarang untuk bersujud dan bersujud seperti yang kau sujud?
Apakah Tuhan telah menyampaikan padamu
Bahwa sujudmu itu benar?

Laknat
Mereka telah menodai nama Tuhan.



Biodata Penulis
Hamdani Chamsyah merupakan sebuah nama pena dari Hamdani. Lahir pada 20 Juli 1999. Mahasiswa Universitas Syiah Kuala, Fakultas KIP Jurusan PBSI atau Gemasastrin. Karyanya penuh dimuat di media cetak Serambi Indonesia dan Harian Aceh, Detak Unsyiah, dan Aceh Jurnal.

Sajak untuk Kenangan (Karya Pringadi Abdi Surya)

[1]

satu porsi martabak har dan es teh tawar di depan sekolah kita,
jalan
Jenderal Sudirman yng memantik perlawanan dari rakyat
berbambu runcing,
sudah menjadi sejarah yang terpaksa kita salin
di buku harian

sebab jarak sudah memisahkan kita, di dua pulau yang terapung,
di pulau yang menitiskan raja-raja menjadi patung.

[2]

sebab di museum bala putra dewa, kita tidak menemukan
kelaminnya
arca-arca rusak, kolam-kolam yang dulu pernah bulus sudah
tinggal fosil, dan beberapa ensiklopedia dibiarkan nama
terpampang tak berbentuk.

kita duduk di taman, satu-satunya tempat yang menyediakan
burung-burung
terbang, dan sebuah patung cupid buta sedang kencing berdiri
dan menertawakan kita yang tak kunjung bertukar bibir.

[3]

di sisi Sungai Musi, kita bermain tebak-tebakan, di mana
sebenarnya Sriwijaya ditenggelamkan?

ampera yang merah, sungai yang kuning, dan langit yang hitam
seperti
sedang ada seseorang yang belajar menggambar dan gagal
mewarnai.

kita tertawa, menertawakan ia yang mungkin tidak pernah
masuk TK.

[4]

aku katakan kepadamu, dompetku tidak setebal diktat para
mahasiswa
tidak setebal berkas kumpulan kasus pidana dan perdata yang tak
pernah selesai pada keadilan
daripada kita makan di warung legenda, kita ke Jakabaring saja
menemui bapak penjual angkringan yang tabah meneliti minyak
jelatah

ku katakan kepadamu, aku tidak suka memakan kembang gula,
menonton
kembang api, dan merayu kembang desa. Sebab
dadaku terlanjur kembang-kempis untuk mengenangmu yang
jauh
merajut kata-kata yang lepuh,

dulu.

Minggu, 28 Juni 2015

Abad Penuh Laknat (Karya Joshua Igno)

abad penuh laknat
di sudut-sudut kota terpasang
gambar tuhan serupa hantu

wajah-wajah kusam menghuni kota sunyi
cahaya tak pernah datang
hanya seberkas sinar
yang membias dari bulan beku

orang-orang berkerumun di sudut kota
memunguti setiap kalimat para ahli kitab
yang terserak di trotoar jalan
orang-orang semakin berduyun
berebut kalimat para ahli kitab
hanya seorang anak kecil yang menemukan
kata "surga".

Ujung Musim Kemarau (Karya Pringadi Abdi Surya)

Aku tak melihat debu di ujung rambutmu. Bertanya
shampoo apa yang kau gunakan, membuatku
teringat pada wangi dupa yang dibakar di kelenteng.
Kemaren kau tengah menenteng seplastik luka,
aku pikir kenangan tak pernah begitu kejam, malam
kehilangan suara jangkrik, hari-hari dipenuhi influenza.
Selamat tinggal, Cinta; bayangan randu yang meranggas,
seorang gadis duduk di ayunan tua, membiarkan roknya
digeniti angin, tetapi bukan kau, bukan wangi serupa
yang kucium ketika hujan mulai membunuh dirinya
demi luka yang lain.




Biodata Penulis 
Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Terpilih menjadi Duta Bahasa Indonesia tahun 2009. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit Dongeng Afrizal (Kayla, 2011). Kini sedang menyiapkan novel trilogi Ganesha .